![]() |
| Pemindahaan sel tahanan sang mujahiden |
Abu Bakar Ba'asyir
Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Pukul 03.48
Azan yang berkumandang lewat pengeras suara memecah subuh di Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Seorang lelaki tua dengan janggut sudah memutih berjalan memasuki masjid yang telah dipenuhi jemaah. Barisan orang yang bersila pun seketika terlihat menggeser duduknya. Mereka memberi jalan kepada lelaki berkopiah dan berbaju koko putih yang dipadu sarung katun hijau bermotif garis-garis itu.
Abu Bakar Ba’asyir, lelaki sepuh itu, kemudian duduk bersila di barisan terdepan, yang memang disediakan baginya. Ahad pagi dua pekan lalu, Ba’asyir memimpin salat subuh berjemaah. Suaranya yang sedikit bariton terdengar begitu fasih melafalkan bacaan-bacaan salat wajib dua rakaat pagi itu.
Seusai salat dan wiridan, Ba’asyir bergegas kembali ke rumahnya. Setiba di rumahnya yang hanya beberapa depa dari masjid, sang ustad melanjutkan membaca wiridnya di ruang tamu berdinding putih kusam tanpa perabot. Dia duduk di atas karpet, berzikir tanpa tasbih dengan mata terpejam. Tokoh sentral Pesantren Ngruki itu tampak begitu menikmatinya.
“Saya biasa bangun pukul 3 pagi,” kata Ba’asyir membuka obrolan setengah jam kemudian. Hari-hari ustad pendiri Pesantren Al-Mukmin itu memang telah dimulai ketika hari masih prematur. Dan zikir menjadi salah satu bagian ritual paginya setelah salat subuh.
Ritual paginya biasanya diakhiri dengan berolahraga ringan. “Olahraga saya, ya, hanya jalan-jalan di dalam rumah,” ujarnya. “Waktu di lembaga pemasyarakatan, saya biasanya jalan-jalan keliling lapangan.”
Di usia 69 tahun, lelaki dengan 3 anak dan 12 cucu ini masih tampak bugar. Padahal hampir tiap hari dia bepergian mengisi ceramah di sejumlah tempat. Awal bulan lalu, misalnya, Ba’asyir berkeliling Jawa Barat dengan berkendaraan mobil. “Saya pilih pakai kendaraan sendiri agar bisa beristirahat di jalan,” tuturnya.
Dan hari itu, Ba’asyir akan ke Yogyakarta. Menurut dia, sebulan sekali pada tiap Ahad pekan keempat jadwalnya adalah mengisi pengajian pagi di kantor pusat Majelis Mujahidin Indonesia di Kota Gudeg tersebut. Setelah itu, dia melanjutkannya dengan rapat pengurus Majelis Mujahidin.
Sejenak, Ba’asyir menghentikan obrolan. Putra bungsunya, Abdul Rokhim, muncul menyuguhkan teh susu buat Tempo dan secangkir kopi madu untuk ayahnya. Rokhim juga menghidangkan dua piring kue. “Ini roti mariam, silakan dicoba,” kata Ba’asyir.
Roti bulat yang masih hangat itu terbuat dari tepung dan telur yang dicampur jintan. Menurut Ba’asyir, penganan itu bukan dari Arab karena memang tak ada di sana. Roti itu dibuat orang keturunan Arab di Indonesia. “Akan lebih enak kalau makannya dengan diolesi madu,” ujarnya.
Perjalanan ke Yogyakarta, Pukul 05.40
Hari masih terang-terang laras ketika kami meluncur di atas Mitsubishi Kuda abu-abu metalik. Ba’asyir duduk di samping sopirnya, Karim. Sejak keluar dari gerbang pesantren, Ba’asyir sudah banyak bercerita. Dia mengisahkan perjalanannya ke sejumlah kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang ditempuhnya lewat jalan darat.
Sesekali dia menerima telepon atau membaca pesan pendek (SMS). Dan ketika memasuki Klaten, Jawa Tengah, Ba’asyir tertidur. Tubuhnya yang cekung terkadang nyaris terjatuh. Sopirnya terlihat sigap memacu mobil lebih laju. Pagi itu sang ustad telah ditunggu jemaah pengajian di Yogyakarta pada pukul 07.00.
Sejak muda, pria kelahiran Desa Pekunden, Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938, itu memang giat berdakwah. Saat menimba ilmu di Fakultas Dakwah Universitas Islam Al-Irsyad, Solo, dia tercatat sebagai Sekretaris Pemuda Al-Irsyad, Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, dan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Pada 1969, Ba’asyir bersama rekan-rekannya mendirikan radio Dakwah Islamiyah–kini bernama radio ABC.
Kini seluruh pusaran kegiatannya berpusat di Al-Mukmin. Boleh dibilang, Al-Mukmin adalah “tanah air” baginya. Dia mendirikan perguruan itu pada 10 Maret 1972 bersama Abdullah Sungkar, Yoyo Rosywadi, dan Abdullah Baraja. Awalnya, Al-Mukmin hanyalah pengajian lohor di Masjid Agung Surakarta. Karena santrinya membeludak, komunitas pengajian itu kemudian dikembangkan menjadi sebuah pesantren.
Langkah Ba’asyir terhenti pada 1978. Dia bersama Abdullah Sungkar ditangkap aparat. Dia kemudian dijebloskan ke penjara lantaran dituduh menghasut orang agar menolak asas tunggal Pancasila. Sepanjang empat tahun dia berpindah dari satu penjara ke penjara lainnya.
Dia kemudian dilepas, tapi kasusnya tetap berjalan. Kasus yang dikenang sebagai kasus Komando Jihad itu dibawa ke meja hijau pada 1982 karena kesaksian seseorang bernama Haji Ismail Pranoto alias Hispran. Dia dituntut hukuman 9 tahun penjara, tapi majelis hakim Pengadilan Negeri Sukoharjo memvonisnya 12 tahun penjara dipotong masa tahanan.
Pada 1985, ketika kasusnya masuk kasasi, Ba’asyir dikenai tahanan rumah. Saat itulah dia hengkang ke Malaysia. Di negeri jiran itu dia kembali giat berdakwah. Demi mencukupi kebutuhan hidupnya, dia berjualan madu dan habbah saudah–semacam jintan hitam. Boleh jadi darah niaga bungsu dari tujuh bersaudara itu mengalir dari ayahnya, Ba’asyir Abud, yang sehari-harinya juga pedagang.
Pada 1999, sepulang dari Malaysia, dia mendirikan Majelis Mujahidin Indonesia. Dia terpilih sebagai amir atau pemimpin tertinggi organisasi itu dalam kongres pertamanya di Yogyakarta pada 2000. Kongres kedua di Solo lima tahun berselang, saat ia masih dipenjarakan, Ba’asyir terpilih kembali sebagai amir organisasi yang berkantor pusat di Yogyakarta itu. Meski sudah cukup lama berdiri, Majelis Mujahidin baru setahun lalu memiliki kantor yang dibangun sendiri. “Sebelumnya kami mengontrak dan berpindah-pindah.”
Ba’asyir lalu muncul sebagai sosok paradoksal dalam peta politik Indonesia. Sejak sekitar lima tahun belakangan, namanya selalu dihubung-hubungkan dengan serentetan peristiwa pengeboman di Tanah Air. Ia dicap sebagai lokomotif Jamaah Islamiyah, sebuah organisasi yang dituding sebagai sarang teroris. Ia ditangkap terkait dengan peristiwa Bom Bali pada Oktober 2002. Kendati tudingannya sebagai pelaku teroris tak terbukti, Ba’asyir tetap dipenjarakan.
Kantor Pusat Majelis Mujahidin Indonesia, Pukul 06.53
Ba’asyir masih tertidur ketika mobil memasuki halaman kantor pusat Majelis Mujahidin Indonesia di bilangan Karanglo, Kota Gede, Yogyakarta. Ia baru terjaga ketika santrinya membukakan pintu. Setelah menyalami sejumlah orang yang menyambutnya, ia langsung masuk ruangan Ahwa, Alhlul Halil Wal’adi, semacam Dewan Syura dalam struktur Majelis Mujahidin.
Meski sarapan telah tersaji di atas meja di ruang Ahwa, Ba’asyir tak menjamahnya. Ia malah langsung berjalan ke aula sembari menenteng sebuah kitab yang sampulnya telah lapuk. Ia menuju meja yang sudah disiapkan. Di hadapannya, ratusan orang, rata-rata anak muda, telah menunggu. Tanpa basa-basi, Ba’asyir memulai pengajian. “Kita akan membahas masalah taat,” katanya. “Taat kepada Allah dan kepada pemimpin.”
Pengajian yang dimulai pukul 06.57 itu berlangsung sekitar satu setengah jam. Seusai ceramah, Ba’asyir masuk ke ruang Lajnah atau pengurus harian. Di dalam ruangan itu sudah ada Abu Muhammad Jibril Abdur Rahman alias Abu Jibril, anggota Ahwa lainnya. Sesaat kemudian Ba’asyir dan Abu Jibril terlibat perbincangan serius.
Sekitar dua jam berselang, seorang anggota Ahwa lain, M. Sobirin, datang. Tampaknya rapat Ahwa kali ini tak diikuti semua anggota yang berjumlah enam orang. Ba’asyir, Abu Jibril, dan Sobirin kemudian menuju ke ruangan pertemuan yang pintunya bertulisan, “Ruangan Lajnah, Dilarang Masuk”. “Maaf, ini pertemuan khusus internal organisasi, jadi kalian nggak bisa ikut,” ujar Ba’asyir.
Seusai pertemuan, Ba’asyir menyatakan sejumlah hal dibahas dalam acara yang berlangsung sekitar satu jam itu, di antaranya agenda penolakan parlemen Israel yang waktu itu rencananya akan berkunjung ke Indonesia dan strategi peningkatan tiras Risalah Mujahidin, media Majelis Mujahidin.
Ba’asyir lalu bersiap salat zuhur karena azan telah berkumandang. Ia melepas baju kokonya sehingga tinggal kaus dalam putih. Sabuk besar yang melilit pinggang mengunci lipatan sarungnya. Ia bergegas ke kamar mandi. Ba’asyir menjadi imam salat zuhur di aula yang tadi pagi dipakai pengajian.
Setelah salat, Ba’asyir melanjutkan pertemuan khusus dan tertutup itu. Tak sampai sejam, pertemuan tersebut kelar. Ba’asyir, Abu Jibril, dan Sobirin kemudian bersantap siang. Menunya nasi putih, telur dadar, sup makaroni, sambal tomat, dan kerupuk. Ba’asyir terlihat begitu lahap menikmati makan siang bersama para santri dan sejumlah anggota Laskar Mujahidin yang baru pulang latihan.
Perjalanan Pulang ke Ngruki, Pukul 12.50
“Setelah asar nanti, saya ada pertemuan keluarga di rumah adik ipar di Solo,” kata Ba’asyir ketika kami meninggalkan kantor Majelis Mujahidin. Siang itu hujan cukup deras mengguyur. Sepanjang perjalanan, ia bercerita seputar kondisi fisiknya. Sejak keluar dari penjara ia punya masalah sembelit. Makanya ia kini memperbanyak makan sayur-sayuran.
Meski begitu, ia tak punya pantangan dalam soal makan. Termasuk daging kambing, yang biasa dijauhi kaum tua, ia justru rutin memakannya. Minimal sepekan sekali ia menyantapnya. “Yang membuat darah tinggi itu garamnya, bukan daging kambingnya,” penggemar sayur pindang kambing, sejenis gulai berkuah bening, itu menjelaskan.
Setiap pagi, kecuali Senin dan Kamis karena puasa, ia punya makanan wajib: buah kurma. Ia makan tujuh butir kurma sebelum makanan lain masuk. Lelaki keturunan Yaman itu juga menghindari gula dengan memilih madu untuk mempermanis kopi atau teh. Lalu malam menjelang tidur, ia makan buah-buahan. “Alhamdulillah hingga kini saya tidak punya masalah kesehatan,” ujarnya.
Maka Ba’asyir enteng saja bepergian jauh dengan mobilnya. Ada dua mobil yang biasanya dipakai. Mobil yang kami tumpangi merupakan sumbangan umat dan biasa digunakan untuk bepergian jarak dekat. Jika ke luar kota yang jauh, ia akan memakai Kia Carnival–yang dibeli istrinya ketika ia masih dalam penjara.
Jarum jam menunjukkan pukul 14.19 ketika kami memasuki kompleks Pondok Ngruki. Ba’asyir meminta izin untuk beristirahat, sebelum menghadiri pertemuan keluarga di rumah adik iparnya di Baturono, Pasar Kliwon, Solo, sekitar satu jam lagi. “Keponakan saya mau lamaran,” katanya.
Baturono, Solo, Pukul 15.40
Setiba di rumah adik iparnya, Ba’asyir kemudian memperkenalkan Tempo. “Ini dari Tempo, sedang membuat liputan sehari bersama teroris, ha-ha-ha…,” seloroh Ba’asyir, yang disambut derai tawa sejumlah tamu.
Acara lamaran di rumah adik ipar Ba’asyir, sekitar 4 kilometer arah timur Ngruki, berlangsung hangat. Sekitar pukul 17.20, dia kembali ke pondok. Menurut dia, masih ada dua acara lagi yang harus dilakoninya. Selepas magrib, ia memberi ceramah bagi semua santrinya di pondok. Setelah itu, ia akan mengisi tablig di Masjid Annur, Ngemplak, Solo.
Ya, hari-hari Ba’asyir praktis tersita untuk berdakwah. Tapi, bila harinya luang, ia lebih banyak tinggal di rumah di kompleks pesantren. “Biasanya saya membaca buku atau kitab,” katanya



